By. Poet
"Ingin ku tuliskan ceritaku ini di dinding kamar kalian agar kalian tau bahwa hidupku tidak seenak kalian, dan agar kalian tau seenak apa hidup kalian di bandingkan aku..! Tidak terlahir dari keluarga harmonis bukan cita2ku, perputaran roda kehidupan yang begitu cepat membuatku kehilangan kasih kedua orang tuaku. Mereka tidak mati, tapi mereka sudah mengingkarkan aku dalam janji2 cinta mereka, mereka telah melupakan kewajiban mereka padaku.
Mungkin sial bagiku, dengan paras ayu ku khas anak metropoltan, bahasa gue yang sedikit asing dibenak kalian, sehingga kalian dengan sadisnya menjudge ku. Aku bukan anak bergelimpang materi, aku bukan anak bermasalah yang dipulangkan kedesa, tapi aku tidak lebih dari gadis kecil yang terpaksa kabur ke kampung kalian ini demi pendidikan yang ingin kukecap. Bukan dengan diantar orang tua dan dengan limpahan uang kiriman dari mereka, tapi dengan 70 ribu yang kubawa, ak nekad berlari kekampung kalian ini.
Bukan dengan sambutan istimewa ak tiba disini, perjuangan hidup yang ak harus jalani di kampung kalian ini. Dengan belia usia kalian dulu mungkin kalian masih bermanja dengan ibu bapak atau mungkin kakak kalian. Tapi dibeliaku ini aku sudah mengalami hal yang mungkin kalianpun akan memilih berhenti menjalani hidup ini."
(#isi sebuah uwet2an kertas yang tak sengaja terbaca olehku di sebuah tas sekolah seorang gadis kecil)
Kenapa gadis ini meremat kertas yang aku tau pasti dengan susah payah di tulisnya? apakah mungkin ini berupa isi hatinya? atau hanya secarik kertas yang harusnya terbuang di tempat sampah?
Tanyaku terus menggelayut di benakku,mengingat uwet2an kertas yang telah kukembalikan di tas gadis itu.
Jangan2 memang apa yang kubaca tadi adalah isi hati anak itu? Namun tidak mungkin, anak itu selalu ceria, anak itu manja layaknya anak pada usianya, dia pasti dikirim kerumah kakeknya didesa ini karena pernah bermasalah di kota atau mungkin di sekolah dia yang lama. yach, pasti begitu. Penampilannya juga mentereng, khas anak kota, selalu nampak balutan baju2 mahal ditubuh mungilnya. Belum lagi sifatnya yang seperti itu, tidak mungkinlah kalo dia mengalami atau pernah mengalami masalah seperti itu. Itu pasti hanya karangan anak itu untuk memenuhi tugas di sekolahnya. ya pasti begitu. aku yakin.
Seminggu berselang sejak aku menemukan secarik kertas dalam tas anak itu. Kami bertemu di Gereja, mendadak ak teringat uwet2an kertas itu, mendadak aku ingat rasa penasaranku waktu itu. Ingin aku tanyakan masalah itu padanya, tapi ak urungkan niatku itu. Melihat senyumnya, tawa hangatnya, celoteh manja khas kotanya, dan berbagai emosi2 kecil khas anak seusianya langsung kembali meyakinkan aku bahwa pasti tidak setragis itu nasib anak ini. aku yakin.
"Teman..
Terima kasih telah menerimaku ditempat ini, kalian semua kakak2ku. Kakak2 yang belum genap 1 tahun aku kenal. Kakak2 yang suka mengejek adik kecilnya yang merengek ini. Ntah kalian mau bilang mau nganter galon kemana mas? (ketika ak memboncengmu), ambil beras darimana mas? (ketika aku mbonceng mtrmu) ak ga akan pedulikan itu, ak menikmati semua ini karena kalian kakakku. Lebih baik kalian yang seperti ini dari pada kalian yang melihat iba karena pengalaman hidupku. Mungkin dengan posturku ini kalian bisa mengejek'ku, tp itu selalu aku anggap sebagai ungkapan kedekatan kalian padaku, walo kalian menghujat, aku yakin kalian selalu memperhatikan aku. Aku janji, bukan tangis maupun ungkapan dendam akan jalan hidupku yang kalian lihat dariku, tapi senyum adik yang selalu merengek manja pada kakaknya. Aku janji"
Sebuah tulisan berbingkai orek2an spidol warna-warni khas anak kecil itu muncul di sebuah mading di greja. Ak terhenyak ketika membacanya siapa penulisnya, dengan judul "Janjiku Pada Kakak'ku". Seketika aku membodohkan diriku sendiri, seketika aku tersadar atas semua sikap ketusku pada anak itu selama ini, seketika aku tersadar atas semua gunjingan dan tanda tanyaku pada anak itu selama ini. Dalam hati ku saat ini hanya kata "maaf" yang ingin terucap dari bibirku...!
Sekarang aku tau kenapa kertas itu diuwet2nya...
Ternyata bukan hujatan dan dendam akan beratnya hidup yang dijalaninya yang ingin dia nampakkan pada kami,namun senyum keceriaan dan peneriamaan atas semua perlakuan kami yang dia bingkai indah dalam hatinya....!
#Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tokoh, setting lokasi maupun alur cerita itu hanyalah kebetulan semata.
RTCB.
Best Regards,
Poet.
great...so touching.. :)
BalasHapus@Lucia Astri : Hehehe.. Trima Kasih.... n Salam Kenal.
BalasHapussalam kenal untuk lucia astri...hihi
BalasHapuspu, ayo rajin ngeblog mulai sekarang hahaha
BalasHapuskereenn.. :)
BalasHapus@frater : siepz... hal satu ini emang asik.. apalagi kalo uda ada yg koment2 didalamnya.. jd bikin gairah baru buat nulis n berkarya..
BalasHapus@audey: makasih... baca notes ku yg lain di FBku ya,, ada beberapa yang keren lho..
saLam kenaL juga...
BalasHapus@frater..hahaa..saLam kenal juga y, ter... :D
Lucia Astri mengatakan...
BalasHapussaLam kenaL juga...
@frater..hahaa..saLam kenal juga y, ter... :D
Kamis, 05 Januari 2012 02:24:00 WIB
(#dunia ini memang panggung sandiwara, kalian kie sok gak kenal ternyata yo dha kenal tha Astri n Lardi kie? hohohohohoho...)