By. PoeT
Gemricik air hujan masih nyaring terdengar malam itu. Ketika dari kejauhan nampak olehku langkah ki Pilang yg tertatih tanpa alas kaki menahan laju sepedanya yg sarat muatan kayu bakar yg hendak dijualnya. Tutup plastik nampak disana sini menutupi muatan sepeda itu dan justru tak terlihat penutup yg tahan air menutupi badan ki pilang. Basah kuyup air hujan dini hari itu tak dapat menyirnakan semangat ki pilang dalam berusaha menjalani jalan hidupnya. Yakin aku bahwa sepeda itu sangat berat, krn ku lihat ki pilang smpai tak kuasa mengendarainya. Dan itu berarti ia harus menuntun sepeda sarat muatannya sejauh 10km, krn itulah jarak rumahnya degan pasar t4 dia menjual kayu2 bakarnya.
Ak terduduk didepan tempat ak dan teman2ku sering bermain badminton sambil teruz memandang ke arah ki pilang yg telah melintas didepanku. Dengan spontan ak berteriak degan logat jawaku yg kadang masih saja muncul walo ak telah 6tahun hidup di LA.
"pinarak ki..." seruku.
Dengan tanpa berhenti ki pilang menjawab dengan suaranya yang renta namun msh kurasa semangat di nadanya.
"matur nuwun den.. Sanes wekdal mawon.. Mangke ndak selak padang..!" jwb ki pilang semangat.
Awalnya tak kurasa apapun dari kejadian itu, ak msh biasa saja dan melanjutkan obrolan dan candaanku bersama teman2 badmintonku. Hingga akhirnya ujan reda pukul 01.00 wib, ak dan temen2 memutuskan untuk pulang walo msh agak gerimis. Ku kendarai motor grandq menembus grimis mlm itu, ak sengaja memelankan laju kendaraanq karena ak tak kuasa menahan dinginnya hawa malam itu. Sambil menggigil ak silangkan satu tanganku didepan dadaq untk sedikit menahan terpaan grimis di dadaq. Jalan memang sudah lenggang, ak yakin tak akan ada orang yg mau keluar dari rumah dan peraduan mereka dengan kondisi cuaca seperti malam itu kecuali karena ada kebutuhan yang amat mendesak lagi sangat.
Saat melintasi jalanan yang amat sepi, seketika itu pula anganku kembali melayang, terbayang sosok renta ki pilang dengan langkah tertatihnya mendorong sepeda yang sarat muatan kayu bakar yang akan dijualnya ke pasar. Ak terbayang ki pilang tanpa alas kaki, tanpa jas hujan ataupun pakaian hangat yang menempel di badannya berjalan menembus hujan dan dinginnya malam itu dengan penuh semangat menjalani pekerjaan dan yang mungkin dalam bahasa missionaris akan disebut sebuah "karya''.
Sesampainya dirumahpun sosok renta ki pilang belum juga sirna dari benakq, ak sengaja tidak langsung masuk ke dalam rumah, ak duduk di bangku yang ada di halaman rumah mewahku, ak duduk terdiam, membayangkan bagaimana jika itu ortuku, dengan nanar pandanganku jauh membayang kemana2.
Ak masih punya kakek nenek di boyolali, mungkinkah mereka disana juga berjuang layaknya ki pilang? mungkinkah sangu2 dari mereka yang ak habiskan untuk beli rokok, pulsa, minuman ataupun hal foya2 lain itu merek dapatkan dengan perjuangan layaknya ki pilang? Benarkah begitu? Atau jgn2 perjuangan yang lebih dahsyat lagi?
Belum sempat usai nanar tatapanku ak terbayang orang tuaku sendiri.. Mungkin mereka pun sesungguhnya haruz berjuang layaknya ki pilang demi ak, pendidikan dan masa depanku...!
Apa ak ini? Siapa ak ini? Apa yang telah ku perjuangkan untuk mereka? Ak hanya selalu menanyakan apa yang dapat ortuku berikan kepadaku, tanpa pernah bertanya apa yang sudah ku berikan pada mereka..!
Sudah semati itukah rasaku? Selama ini dimana aku.. Sampai2 nyrawungi atiku dewe pun ak tak sempat...!
Tanpa sadar ada yg membasahi pipiku...!
Tak tarasa badanku sudah basah kuyup ketika ak sadar bahwa ak masih di luar rumah dan masih gerimis, tambah lagi ak baru sadar bahwa ternyata sandalq tinggal sebelah..!
"Ooo.. Asu tenan og, ndene kw su, balekke sandalq.." seruku pada rosi anjingku yang sedang berlari menggondol sandalq!
TAMAT.
*cerita ini adalah fiksi belaka, bila ada kesamaan tokoh dan t4 itu hnyalah kebetulan semata.
Namun tdk ada salahny menanyakan pertanyaan2 dlm crta ini pd diri pembca skalian. Okey?
Smoga bermanfaat..!
Thx,
Best Regard,
POE-T.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar